Kamis, 15 Agustus 2013

Berkat Sedekah, Tukang Becak Itu Mengunjungi Baitullah

Yuck bilang Subhanallah Bersama 

Pak Parman, demikian orang-orang memanggilnya. Dia
hanyalah seorang tukang becak. Sudah bisa ditebak, berapa

kekayaannya? Dia hanya punya tempat tinggal, dan itu pun

kost di tempat yang kumuh, yang gentengnya sewaktu-waktu

bisa bocor karena hujan.


Meski begitu, Pak Parman memiliki

budi yang sangat mulia. Kemiskinan yang merenggut

kehidupannya, tidak menutup mata batinnya untuk selalu

berbagi kepada orang lain.


Siapa kira orang miskin tidak bisa naik haji. Karena sedekah,

tukang becak yang satu ini justru mendapatkan keberkahan

untuk menunaikan rukun Islam kelima.


Tapi, bukan harta yang bisa ia sumbangkan. Sebab, untuk

makan sehari-hari saja sulit, apalagi berniat untuk berbagi

harta kepada orang lain. Maka, yang hanya bisa dilakukan

Pak Parman adalah “sedekah jasa”. Yaitu, setiap hari Jum’at

ia menggratiskan semua penumpang yang naik becaknya. Ini

adalah hal yang luar biasa. Tidak semua orang bisa

melakukannya, apalagi orang miskin seperti dirinya. Maka,

atas kebaikannya itulah, suatu “keberkahan hidup” kemudian

menghampirinya.


Suatu ketika, di hari Jum’at pertama bulan Ramadhan, tiba-

tiba, ada orang yang kaya raya mobilnya mogok. Kebetulan,

mogoknya tidak jauh dari pangkalan becak Pak Parman.


Orang kaya itu pun bertanya kepada supirnya, “Pir, kalau naik

becak kira-kira ongkosnya berapa ya?”

“Paling juga dua sampai tiga ribuan,” jawab supir kepada

majikannya.


Orang kaya tersebut pun memutuskan naik becak karena

sebenarnya jarak dirinya dengan rumahnya sudah lumayan

dekat. Maka, dipanggillah tukang becak yang ada di

pangkalan tersebut dan kebetulan Pak Parman yang datang.


Lalu, digoeslah becak itu oleh Pak Parman menuju rumah

orang kaya tersebut. Setelah sampai di tempat, Pak Parman

dikasih uang 10 ribu dan tidak usah dikembalikan. Namun,

oleh Pak Parman uang itu ditolaknya.

“Kenapa Bapak menolaknya?” tanya orang kaya itu..

“Saya sudah meniatkan dari dulu, kalau setiap Jum’at saya

menggratiskan semua penumpang yang naik becak saya,”

jawabnya jujur.


Setelah itu, Pak Parman pun pergi meninggalkan orang kaya

tersebut. Rupanya, kejadian itu sangat membekas di hati

orang kaya tersebut. Orang kaya seperti dirinya saja tidak

pernah sedekah, ini orang miskin malah melakukannya

dengan begitu tulus. Lalu, dikejarlah Pak Parman. Setelah

dapat, Pak Parman pun dikasih uang satu juta. Orang kaya itu

pikir, Pak Parman akan menerimanya karena uangnya besar.


Tapi, Pak Parman tetap menolaknya. Lalu, dinaikkan lagi

menjadi dua juta dan tetap Pak Parman menolaknya. Alasan

Pak Parman sama: dia tidak menerima uang sepeser pun di

hari Jum’at untuk jasa ojek becaknya. Sebab, dia sudah

meniatkannya untuk bersedekah. Subhanallah!


Tapi, hal ini justru membuat orang kaya tersebut semakin

penasaran. Maka Jum’at berikutnya (di hari Ramadhan juga),

orang kaya itu pun naik becak lagi. Ia sengaja meninggalkan

supirnya untuk pulang ke rumah sendiri dan dia lebih memilih

berhenti di pangkalan itu untuk bisa naik becak Pak Parman.


Maka diantarlah orang kaya tersebut ke rumahnya oleh Pak

Parman. Setelah sampai, Pak Parman pun diberikan uang

yang lebih besar lagi, kali ini 10 juta. Orang kaya itu pikir Pak

Parman akan tergoda oleh uang sebanyak itu. Tapi, lagi-lagi,

perkiraannya meleset. Pak Parman, sekali lagi, menolak uang

yang bagi dia itu sebenarnya sangat besar. Apalagi, sebentar

lagi akan Lebaran dan uang itu pasti akan berguna buat

dirinya dan keluarganya. Tapi, orangtua itu menolaknya

dengan halus.


Kejadian ini benar-benar membuat orang kaya tersebut tidak

mengerti. Kenapa orang miskin seperti Pak Parman tidak mau

menerima uang sebesar itu? Padahal, uang itu bisa ia

gunakan selama berbulan-bulan. Namun, rasa penasaran

orang kaya itu rupanya tidak pernah berhenti. Jum’at

berikutnya, dia pun naik becak milik Pak Parman lagi. Namun,

kali ini ia minta diantarkan ke tempat yang lain.


“Pak, antarkan saya ke rumah Bapak,” pinta orang kaya.

“Memangnya, ada apa, Pak?” jawab Pak Parman polos.

“Pokoknya, antarkan saya saja.”


Akhirnya, Pak Parman terpaksa mengantarkan orang kaya itu

ke rumahnya. Mungkin orang kaya itu hanya ingin menguji:

apakah tukang becak itu benar-benar orang miskin ataukah

tidak? Mereka pun akhirnya sampai di rumah Pak Parman.


Betapa terkejutnya orang kaya itu, karena rumah yang

dimaksud hanyalah sebuah rumah kost yang sangat jelek.

Gentengnya sewaktu-waktu bisa roboh karena terpaan air

hujan. Karena sangat iba melihat kejadian itu, orang itu pun

merogoh uangnya sejumlah Rp. 25 juta.


“Ini Pak, uang sekedarnya dari saya. Mohon Bapak

menerimanya,” pinta orang kaya kepada Pak Parman.


Apa reaksi Pak Parman? Ternyata, dengan halus dia pun tetap

menolaknya. Hal ini benar-benar sangat mengejutkan orang

kaya itu. Bagaimana bisa orang semiskin dia menolak uang

pemberian sebesar Rp. 25 juta? Kalau bukan dia adalah lelaki

yang luar biasa, yang memiliki budi yang sangat luhur.


Akhirnya orang kaya itu pun menyerah. Dia benar-benar kalah

dengan ketulusan hati Pak Parman. Ia percaya bahwa apa

yang dilakukan Pak Parman benar-benar tulus dari hatinya. Ia

benar-benar tidak tergoda oleh indahnya dunia dan kilaunya

uang jutaan rupiah. Mungkin ia satu pribadi yang langka dari

1000 orang yang ada, yang sewaktu-waktu hanya muncul di

dunia. Luar biasa!


Tapi, orang kaya itu berjanji bahwa suatu saat ia akan

memberikan yang terbaik buat tukang becak yang berhati

mulia tersebut. Sebab, mungkin, baru kali ini hatinya terusik

lalu disadarkan oleh orang miskin yang hanya seorang tukang

becak. Dan waktu pun terus berlalu.


Lebaran telah tiba. Pak Parman dan orang kaya itu tidak

bertemu lagi. Menjelang Lebaran Haji (Idul Adha), orang kaya

itu kembali menemui Pak Parman di rumah kostnya. Kembali

ia pun datang di hari Jum’at. Mudah-mudahan kali ini niatnya

tidak sia-sia. Setelah mereka bertemu, di depan Pak Parman

orang kaya kemudian bicara terus terang, “Pak, mohon kali ini

niat baik saya diterima. Bapak dan istri serta anak Bapak

akan saya berangkatkan haji ke Tanah Suci. Sekali lagi,

mohon Bapak menerima niat baik saya ini?”


Pak Parman menangis di depan istri dan anak semata

wayangnya. Pergi ke Mekkah saja tidak pernah ia bayangkan

sejak dulu, ini apalagi ia dan keluarganya akan

diberangkatkan naik haji. Ini benar-benar hadiah yang sangat

luar biasa dari Allah swt. Tawaran orang kaya itu pun

diterima Pak Parman dengan setulus hati.


Maka, Pak Parman dan keluarganya pun akhirnya pergi haji.

Ya, seorang tukang becak yang miskin tapi memiliki hati yang

sangat mulia akhirnya bisa melihat keagungan Ka’bah di

Mekkah al-Mukarramah dan makam Nabi Muhammad saw di

Madinah. Kebaikannya dibalas oleh Allah. Ia yang menolak

satu juta, dua juta, 10 juta, hingga Rp. 25 juta, tapi Allah

menggantinya dengan haji ke Baitullah, bersama istri dan

anaknya! Jadi, berapa kali lipatkah keberkahan yang

didapatkan Pak Parman karena sedekah yang ia lakukan

setiap hari Jum’at?! Subhanallah!


Bahkan, tidak saja dihajikan secara gratis, Pak Parman

akhirnya dibuatkan rumah oleh orang kaya tersebut. Maka,

semakin berkahlah hidup si tukang becak berhati mulia itu.


Dan sejak itu, Pak Parman pun bisa tinggal di sebuah tempat

yang nyaman dan tidak memikirkan lagi uang untuk kost di

bulan berikutnya.


Demikian kisah tukang becak yang bisa naik haji karena

sedekah yang dilakukannya. Apakah kita sudah seperti Pak

Parman? Dia yang miskin masih memikirkan untuk berbagi

untuk orang lain, apalagi kita yang mungkin lebih mampu

dibandingkan dia. Mudah-mudahan kita bisa mengikuti

jejaknya, terutama dalam hal ketulusannya dalam berbagi!

Amin.


Diambil dari Buku "Majalah Hidayah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar